Home / KOLOM NASHRULLAH JUMADI / Tulisan 10 : MASJIDKU SEDANG DILANDA KONFLIK INTERNAL
f730e78c-d7c9-4743-9f76-b891e2596b2d

Tulisan 10 : MASJIDKU SEDANG DILANDA KONFLIK INTERNAL

f730e78c-d7c9-4743-9f76-b891e2596b2dMASJIDKU SEDANG DILANDA   KONFLIK INTERNAL

 Konflik lagi, konflik lagi itu pemandangan yang sering kita lihat dan saksikan di kebanyakan masjid-masjid kita hari ini. Konflik menjadi bagian yang tak terpisahkan dari masjid. Baik itu konflik antar pengurus dengan pengurus masjid lainnya maupun pengurus dengan jamaah masjid. Dan lebih ironis lagi mayoritas konflik yang muncul di picu dengan persoalan-persoalan yang remeh Maka anda jangan heran jika konflik yang terjadi hamper di setiap masjid kita saat ini telah menjadi pemandangan wajar di lihat, bahkan ada yang beranggapan kalau di masjid tidak ada konflik rasanya kurang menarik, Naudzubillahi min dzalik

Pembaca sekalian, coba kita renungkan dalam-dalam masjid di sekitar kita pasti terjadi konflik di dalamnya, baik yang muncul dipermukaan maupun yang hanya perang dingin semata. Dan konflik yang terjadi biasanya bertahun-tahun dan tanpa solusi, sehingga menganggu kelangsungan program dan kemakmuran masjid ke depan.

Disebuah acara training baitul maal masjid yang diseleggarakan oleh salah satu masjid di kota Solo. Ada beberapa peserta yang ikut menghadiri acara Training tersebut. Pada saat training sudah menjadi hal yang biasa saya senantiasa bertanya pada para peserta training tentang kondisi masjid di mana mereka tinggal.

Dari sekian peserta ada peserta yang menarik perhatianku. Singkat cerita terjadilah dialog singkat antara aku dengan peserta training tersebut. Saya bertanya :”Bapak dan rombongan dari perwakilan masjid mana?” Kemudian ketua rombongan itu menjawab: “Kami dari masjid A ustadz, tapi kami bukan perwakilan resmi masjid, kami hanya jamaah biasa dan kami datang atas inisiatif sendiri. Saya kemudian menanjutkan pertanyaan : “Lha memangnya kenapa pak dengan masjidnya, kok datang tidak dengan pengurus masjidnya ?” Ketua rombongan tadi melanjutkan jawaban : “Masjid kami saat ini sedang dilanda konflk antar pengurus masjidnya ustadz  dan kami tidak tahu harus kemana dan bagaimana mencari solusi atas persoalan di masjid kami saat ini.”

Pembaca sekalian, mendengar keluh kesah jamaah ini saya hanya bisa prihatin dan sekaligus semakin penasaran ingin mengetahui lebih jauh sebab musabab terjadinya konflik di masjid tersebut. Kemudian saya bertanya kembali :”Kira-kira sejak kapan pak konflik antar pengurus masjid itu terjadi ?” Ketua Rombongan itu menjawab :”Kami tidak tahu pastinya ustadz.”. Saya bertanya lagi :”Menurut perkiraan bapak kira-kira kapan ya pak konflik antar pengurus di masjid bapak akan terakhir ?” Ketua Rombongan itu menjawab kembali :”Tidak tahu ustadz.” Kemudian saya bertanya kembali :”Kira-kira dengan cara apa bapak dan rombongan menyelesaikan konflik di masjid bapak?” Kembali ketua Rombongan itu menjawab :”Tidak tahu ustadz.”. Kemudian saya bertanya lagi dengan sedikit penekanan dan keheranan “Berarti konflik di masjid bapak adalah konflik abadi dong” …kemudian disambut dengan tertawa peserta training baitul maal masjid yang hadir saat itu.

Pembaca sekalian, jika kita renungkan dengan seksama kisah di atas ternyata konflik internal tanpa kita sadari telah menguras energy kita selama ini, sehingga kita tak mampu menjadi pribadi atau team yang produktif. Coba anda banyangkan jika konflik itu terjadi di masjid dekat rumah kita dan kita sebagai seorang muslim harus menghadiri masjid untuk menunaikan sholat jamaah liwa waktu di masjid tersebut, saya yakin suasana hati kita tentu tidaklah nyaman di saat kita hadir masjid.

Konflik itu telah menjadikan kita tidak produktif, yang pada akhirnya kita tak mampu menjadi pengurus/takmir masjid yang berprestasi, prestasinya hanya mampu membangun dan merenovasi masjid semata, sementara prestasi dalam pemberdayaan umat disekitar masjid nol besar, terlebih lagi memunculkan program-program yang inovatif sebagai umpan ummat yang belum terketuk hatinya dating ke masjid. Kegiatan pun hanya sebatas menyambut Ramadhan dan idhul Fitri serta hari raya Idhul adha semata. Iya ini konflik yang terjadi di masjid kita saat ini, yang tak mampu kita atasi dan tak mampu kita carikan solusi.

Lalu dengan apa kita menyelesaikan konflik internal tersebut ? Menurut saya penyelesaian konflik itu awalnya kita harus menciptakan “musuh bersama”. Dan “musuh bersama” itu adalah penderitaan dan derita umat disekitar masjid melalui pembentukan dan optimalisasi baitul maal masjid. Contoh mudahnya yakni memberikan santunan pada anak yatim. Saya amat yakin bahwa seluruh jamaah yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda pasti akan sepakat bahwa atas program tersebut. Untuk itu program keummatan khususnya terkait dengan kesehjahteraan umat seharus lebih kita kedepankan dan kita kelola dengan sebaik-baik sampai mendapatkan keberhasilan yang nyata dan terukur dengan baik. Wallahualam bishowab

 

……Konflik itu telah menjadikan kita tidak produktif, yang pada akhirnya kita tak mampu menjadi pengurus/takmir masjid yang berprestasi, prestasinya hanya mampu membangun dan merenovasi masjid semata, sementara prestasi dalam pemberdayaan umat disekitar masjid nol besar, terlebih lagi memunculkan program-program yang inovatif sebagai umpan ummat yang belum terketuk hatinya datang ke masjid. Kegiatan pun hanya sebatas menyambut Ramadhan dan idhul Fitri serta hari raya Idhul adha semata.

About Baitul Maal Masjid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*