Home / KOLOM NASHRULLAH JUMADI / Tulisan 20 : “GENERASI AWAL” MASJID ITU TETAP BEDA DENGAN “GENERASI AKHIR”
img_20150329_094250

Tulisan 20 : “GENERASI AWAL” MASJID ITU TETAP BEDA DENGAN “GENERASI AKHIR”

f730e78c-d7c9-4743-9f76-b891e2596b2dTulisan 20

“GENERASI AWAL” MASJID  ITU TETAP BEDA DENGAN “GENERASI AKHIR” 

Nashrullah Jumadi

Penulis buku “5 Langkah Mudah Membentuk dan Mengoptimalkan Baitul Maal Masjid”/Penganggas Konsep Gerakan membangun desa/kampung berbasis Baitul Maal Masjid/Ketua Lembaga Trainer & Penelitian Keummatan AL HADID/Founder Gerakan Peduli Masjid (GPM) Indonesia

 

GENERASI AWAL” MASJID  ITU TETAP BEDA DENGAN “GENERASI AKHIR” inilah tema yang saya angkat kali ini. Sengaja saya angkat tema ini berawal dari banyaknya para takmir masjid yang notabene di dominasi kaum tua yang kurang memahami bagaimana proses rotasi amal sholeh itu bisa berjalan dengan baik dalam Islam.

Ketidakpahaman ini memang banyak implikasinya salah satu contoh yakni tidak berjalannya rotasi kader masjid. Selain itu iklim perubahan yang digulirkan di masjid yang rata-rata dimotori kaum muda biasanya akan kandas ditengah jalan.

Pertanyaannya yakni mengapa bisa sedemikian parahnya ? Ya, sebab takmir masjid yang rata-rata sudah lanjut usia ini dengan munculnya rotasi dan perubahan merasa akan ter”singkir” dari aktivitas masjid yang selama ini di kelolanya. Dengan ter”singkir”nya dirinya sebagai ketua takmir/pengurus masjid maka otomatis peluang dirinya untuk mendapatkan amal sholeh pun akan berkurang atau kalaupun dapat dirinya pasti akan kalah dengan para pemuda yang lebih kuat dan aktif dari pada dirinya.

Dan lebih ironis lagi, kalau sang takmir masjid ini memiliki pandangan jika sudah tidak lagi menjadi Takmir masjid karena digantikan yang lebih produktif, lalu apa yang akan dikerjakan setiap kali datang ke masjid ? Dirinya merasa tidak ada yang bisa dikerjakan kecuali hanya sebatas sholat semata, padahal selama ini begitu aktif mengurus segalanya.

Inilah barangkali pandangan yang banyak dirasakan oleh mayoritas takmir masjid kita saat ini. Kalau boleh saya katakan ini bukanlah bagian dari pemahaman yang tepat, tapi lebih pada “ketakutan” semata. Sebagaimana ketika orang tua ingin melepas anaknya karena ingin menikah, mungkin perasaanya akan tidak menentu antara senang, bahagia, takut kehilangan dll

Maka wajar, seringkali perubahan yang terjadi di masjid disikapi tidak dengan logika yang sehat oleh para takmir masjid kita, tapi lebih pada perasaan semata karena takut tak bisa beraktivitas sebagaimana  dulu.

Pembaca sekalian, apa yang saya sampaikan diatas adalah kondisi yang seringkali dialami masjid kita saat ini dalam rangka mendorong adanya prubahan yang lebih baik. Dan pada kenyataannya pula banyak takmir masjid memiliki pandangan di atas seringkali orang yang pertama kami menghalangi perubahan itu.

Mereka mungkin tidak sadar bahwa “Generasi awal masjid itu tetap beda dengan generasi akhir”. Islam memandang bahwa bagaimana pun orang yang mengawali jauh lebih baik dari pada orang yang akhir. Orang yang mengawali berdirinya sebuah masjid dengan segala pengorbanannya tentu punya nilai lebih dibandingkan dengan orang akhir. Biasanya orang awal itu akan mengalami masa-masa sulit dan penuh tantangan untuk bisa mendirikan masjid, terlebih lagi di wilayah tersebut belum ada satu pun masjid.

Dan biasanya pula orang akhir datang ke masjid di saat masjid telah berdiri kokoh dan sistemnya telah berjalan walaupun sistemnya belum berjalan dengan baik.

Jadi bagaimana pun “Generasi awal masjid itu tetap lebih baik dari generasi akhir” walaupun dirinya sudah tidak produktif lagi, walaupun dirinya tidak sepandai orang-orang akhir yang baru datang ke masjid. Sebab orang awal itu mendapatkan pahala atas apa yang dilakukan orang akhir, tapi orang akhir itu tidak mendapatkan pahala atas apa yang dilakukan oleh generasi awal.

Tapi semua itu dengan satu catatan penting yakni IKHLAS SEMATA-MATA MENGHARAP RIDO ALLAH SWT dan JAUH DARI KEPENTINGAN DUNIA semata, baik itu kepentingan popularitas ditengah masyarakat, kepentingan partai, ormas/lembaga/organisasi. Jadi menjadi takmir masjid semata-mata dalam rangka beramal sholeh mengharap ridlo Allah Swt.

Maka dari uraian diatas seharusnya takmir masjid yang notabene di dominasi kaum tua bisa memahami proses amal sholeh itu berjalan, sehingga munculnya perubahan yang dilakukan oleh kaum muda tidak dihambat ditengah jalan, tapi justru di dukung untuk terus berjalan dengan baik. Karena keberhasilan generasi muda memakmurkan masjid hakekatnya adalah keberhasilan para generasi tuanya.  Wallahu a’lam bishowab

Mohon yang share tulisan ini mencantumkan sumbernya : www.baitulmaalmasjid.com

 

Bagaimana pun “Generasi awal masjid itu tetap lebih baik dari generasi akhir” walaupun dirinya sudah tidak produktif lagi, walaupun dirinya tidak sepandai orang-orang akhir yang baru datang ke masjid.

Sebab orang awal itu mendapatkan pahala atas apa yang dilakukan orang akhir, tapi orang akhir itu tidak mendapatkan pahala atas apa yang dilakukan oleh generasi awal.   Tapi semua itu dengan satu catatan penting yakni IKHLAS SEMATA-MATA MENGHARAP RIDO ALLAH SWT dan JAUH DARI KEPENTINGAN DUNIA

 

About Baitul Maal Masjid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*